27 Okt 2015

Mau

Ketika kau tanya, maukah ikut pulang bersamamu? Ya, saya mau.

Ketika kau tanya, maukah bangkitkan semangatmu? Ya, saya mau.

Bahkan ketika kau belum meminta, saya akan mau menetap.

Di pikiranmu, di hatimu, di akhir doamu. 

Karena 2 pertanyaan di atas pun, bukan untuk saya. Tapi, ya, saya mau.

-------
Puisi paling menjijikkan, penuh nafsu, dan kelihatan seperti nggak beragama yang pernah saya buat--karena saya jarang sekali nulis puisi. Nulis artikel pun sekarang jarang, lebih sering ke desain grafis, layout majalah, dll.

Tapi, 'mu' dalam puisi di atas membangkitkan keinginan untuk menulis yang manis. Tidak perlu ia tahu, karena keberadaan saya pun belum tentu ia tahu. Tapi ia manis, maka saya buat puisi yang manis.

Blog saya ini isinya banyak cinta-cintanya, jadi tidak perlu bertanya mengapa saya tulis sesuatu tentang/untuk dia.

Karena saya mau.

0 komentar:

Posting Komentar

 
;